Sabtu, 04 April 2020

Pengaruh Covid-19 terhadap pembelajaran anak anak

Anis Kurliyana Devi/20170701052011/PGMI A
Halo kali ini saya disini akan membahasas tentang pengaruh Covid-19 terhaap pembelajaran di kampung saya..
Simak terus ya!!

Pengaruh Covid-19 Terhadap Pembelajaran Anak-anak Dikampungku

(Gambar pada saat wawancara)

Saat ini dunia digemparkan dengan kasus virus  ganas dan mematikan yang dikenal dengan virus Corona atau Covid-19, virus ini sudah mewabah ke Indonesia. Kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah memakan banyak korban dan ini memungkinkan masih terus bertambah. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi anjuran pemerintah demi keselamatan bersama serta melakukan berbagai upaya pencegahan agar terhindar dari Virus yang ganas ini.
Pemerintah pusat hingga daerah memberikan kebijakan untuk meliburkan seluruh lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah meluasnya penularan dari Covid-19. Pemerintah mengeluarkan surat edaran yang mengharuskan siswa belajar dirumah agar terhindar dari penyebaran dari Covid-19.
Di Pamekasan Madura sekolah-sekolah juga melakukan pembelajaran jarak jauh mengingat telah dikeluarkan surat edaran dari pemerintah baik SD, SMP, SMA dan Kampus-Kampus yang ada di Pamekasan. Pembelajaran jarak jauh ini dengan menggunakan media online. Mengingat di Pamekasan sudah ada orang yang terjangkit positif Covid-19.
Pembelajaran yang dilakukan di kampung saya, yaitu di Desa Samiran kec Proppo Kab Pamekasan juga melakukan pembelajaran jarak jauh. Artinya siswa diharuskan belajar dirumah masing-masing sejak tanggal 16 Maret 2020 hingga sekarang. Pembelajaran di rumah itu sistemnya  siswa belajar secara online untuk siswa SMP, SMA dan perkuliahan.
Sementara untuk murid SD, pembelajaran dilakukan lebih banyak menggunakan cara manual. Sebab untuk mengoperasikan online bagi kelas rendah seperti di kelas 1, 2, dan 3 dimungkinkan belum mampu. Oleh sebab itu murid diberikan tugas membaca buku paket.
Dampak dari Covid-19 ini membuat pembelajaran kurang efektif di SDN Samiran III. Karena keterbatasan media online dan peserta didik yang kurang memiliki akses terhadap teknologi dan internet. Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah memberikan pekerjaan rumah banyak kepada peserta didik, meskipun metode ini tidak semaksimal online learning.
Saat saya melakukan wawancara dengan salah satu siswa SD pada hari Selasa 31 Maret 2020 yaitu Fatmawati salah satu siswa kelas VI di SDN Samiran III mengatakan guru memberikan tugas yang sangat banyak untuk dikerjakan dirumah dan kemudian dikumpulkan pada saat kelas bertatap muka di gelar atau pada saat masuk sekolah. Fatmawati mengaku bahwa dia tidak mengerti dengan pembelajaran yang ada di buku. Menurutnya dia membutuhkan penjelasan dari guru.
Hal lain yang perlu diperhatikan dari dampak Covid-19 ini adalah, para siswa juga akan mengalami kesulitan untuk melakukan konsultasi dengan guru terutama untuk pelajaran yang dianggap membutuhkan penjelasan dan pemahaman yang lebih mendalam, misalnya pada mata pelajaran matematika.
Dengan adanya virus Corona atau Covid-19 ini anak-anak lebih banyak bermain dari pada belajar. Meskipun guru sudah memberikan tugas untuk dikerjakan, anak-anak cenderung malas dan memilih bermain daripada belajar.

(anak anak bermain)
Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan agar kita terhindar dari Covid-19 dan segara bisa melakukan aktivitas belajar seperti biasanya.
Sekian dari saya. Terimakasih

Selasa, 17 Maret 2020

Metode pembelajaran make a match

Anis Kurliyana Devi/20170701052011/PGMI A

Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match

Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, model dan teknik pembelajaran. Salah satunya adalah model pembelajaran make a match ini.
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match  adalah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Lorna Curran.   Salah satu keunggulannya adalah siswa belajar sambil menguasai konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Pembelajaran model pembelajaran Make a match yaitu pembelajaran yang teknik mengajarnya dengan mencari pasangan melalui kartu  pertanyaan dan jawaban yang harus ditemukan dan didiskusikan oleh pasangan siswa tersebut.
Tujuan dari metode pembelajaran kooperatif tipe make a match ini  pertama kali dikembangkan oleh Lorna Curran (1994) yaitu tujuannya adalah pedalaman materi, pengalihan materi dan edutaiment.
Sedangkan prinsip-prinsip model pembelajaran kooperatif tipe make a match ini antara lain  Anak belajar melalui berbuat, anak belajar melalui panca indera, anak belajar melalui bahasa dan anak belajar melalui bergerak
Dalam metode pembelajaran kooperatif tipe make a match ini kelas dibagi menjadi 3 kelompok. Yaitu kelompok pertanyaan, kelompok jawaban dan kelompok penilai.  Kemudian kelompok-kelompok tersebut berbentuk huruf U. Dengan kelompok pertanyaan dan jawaban berjajar saling berhadapan dan kelompok penilai ada di pinggir.
Kemudian guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari/mencocok kan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru juga menyampaikan batasan maksimum waktu yang ia berikan kepada mereka. Jika sudah menemukan pasangannya guru meminta mereka melaporkan diri kepadanya.
Model Make a Match ini sangat efektif membantu siswa dalam memahami materi melalui permainan mencari kartu jawaban dan pertanyaan, sehingga dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan.
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan dibandingkan dengan model pembelajaran yang lainnya. Begitu juga model pembelajaran Make a match, adapun kelebihan model pembelajaran make a match  adalah sebagai berikut:
1. Siswa dapat belajar dengan aktif karena guru hanya berperan sebagai pembimbing, sehingga siswa yang mendominasi dalam aktifitas pembelajaran.
2. Terdapat unsur permainan sehingga metode ini menyenangkan.
3. Dapat meningkatkan antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
4. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi
Adapun kelemahan dalam model pembelajaran kooperatif tipe make a match ini adalah sebagai berikut:
1. Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan.
2. Guru memerlukan waktu untuk mempersiapkan alat dan bahan pelajaran yang memadahi. Memerlukan waktu yang lebih banyak, sehingga waktu yang tersedia harus dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermain-main dalam proses pembelajaran.
3. Guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangannya, karena mereka bisa malu.

Selasa, 18 Februari 2020

Resensi Novel Totto Chan

RISENSI NOVEL
"TOTTO-CHAN"
GADIS CILIK DI JENDELA

Judul Buku : TOTTO-CHAN Gadis Cilik di Jendela
Resentator : Anis Kurliyana Devi/20170701052011/PGMI A
Penulis :  Tetsuko Kuroyanagi
Ahli Bahasa : Widya Kirana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2008
Cetakan ke : 5
Tebal Buku: 272 Halaman

Sinopsis
Pada novel Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela ini menceritakan tentang anak kecil yang masih kelas I Sekolah Dasar yang harus di keluarkan dari sekolahnya. Anak tersebut bernama Totto-chan, yang tak lain Totto-chan adalah si pengarang buku tentang pengalaman pribadi yang bernama Tetsuko Kuroyanagi.
Pada sekolahnya yang pertama, guru di sekolah tersebut menganggap Totto-chan nakal. Padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yg sangat besar. Karena keingintahuan Totto-chan yang besar, dia suka sekali berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Berdirinya Totto-chan di jendela supaya bisa memanggil para pemusik jalanan. Selain itu Totto-chan gemar membuka dan menutup mejanya ratusan kali. Sehingga mengganggu pada saat kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas. Gurunya pun sudah tak sanggup mengurusi Totto-chan, yang akhirnya harus mengeluarkan Totto-chan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Dan tentu saja Totto-chan girang sekali. Totto-chan sangat senang dengan sekolahnya yang baru. Totto-chan sangat suka kepada kepala sekolah di sekolahnya yang baru. Pada sekolahnya yang baru agak berbeda dengan sekolahnya yang lama. Karena  di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan diluar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.
Di sekolah Tomoe Gakuen ini sistem pembelajarannya sangat berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Contohnya saja pada saat makan siang. Siswa di haruskan membawa makanan "sesuatu di laut dan sesuatu dari pegunungan" agar siswa memakan makanan yang gizinya seimbang. Di Tomoe Gakuen, para murid boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yg memulai hari dengan belajar fisika, ada yg mendahulukan menggambar, ada yg ingin belajar bahasa dulu, sesuai apa yang mereka inginkan. Walaupun belum menyadari, Totto-chan pun tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa dll disana. Ia juga mendapatkn banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat & menghargai orang lain serta kebebasan menjadi diri sendiri.
Pada saat bom meledakkan sekolah Tamoe Gakuen pada tahun 1945  semua kenangan dan pembelajaran Totto-Chan harus berakhir. Saat itu Jepang mengalami perang dunia ke-II. Bangunan-bangunan di Tamoe-Gakuen mengalami kerusakan parah akibat daridakan bom perang dunia ke-II tersebut.
Kelebihan dari novel ini yaitu deskripsi penulis sangat lengkap seakan-akan membuat kita ada dalam cerita tersebut. Cerita Totto-chan menarik untuk dibaca karena mengangkat dari cerita nyata pengalaman si penulis. Novel ini juga menambah wawasan kita dalam pendidikan.
Kelemahan dari novel ini yaitu terdapat beberapa kata yang tidak di mengerti, sehingga membutuhkan kamus untuk mencari tau apa arti dari kata tersebut. Nama-nama tokoh dan nama-nama tempat dalam bahasa Jepang yang sulit, sehingga membuat si pembaca tidak ingat kepada nama tokoh ataupun nama tempatnya.